Minggu, 28 Juni 2015

Excellent Teaching HE Gives You


Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syaithan yang terkutuk. Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS An-Nisaa’, 4:58)

Source                                                                                      Bayyinah.com

Tafsir by                                                                                   Nouman Ali Khan, CEO of Bayyinah Institute

File name                                                                                004_058 Excellent Teaching HE Gives You.mp4

Duration                                                                                  08mm22ss

Penyusun ulang                                                                    brother.heru@gmail.com

Ayat ini mengandung dua nasihat dahsyat. Yang pertama, innallaaha ya’murukum an tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa. Sampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Amanat itu ada yang datangnya dari Allah swt sejak saat kita mengucap Laa Ilaaha Illallaah. Lalu kita punya amanat dari Rasulullah saw, bagaimana kita menghargai beliau dengan shalawat kita, bagaimana kita mematuhi beliau saw. Lalu kita juga punya amanat dari keluarga kita, dari orang tua kita, dari tetangga-tetangga kita. Semua ini adalah amanat. Ayat ini meringkas dengan cantik semua firman Allah dalam satu pernyataan: “berikan apa yang berhak didapatkan”.

Kita pastikan kita berikan ke mereka apa yang berhak mereka dapatkan. Dan, tidak kurang dari itu. No less. Tidak kurang dari apa yang berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah pemberi kerja, kita berikan ke karyawan kita tidak kurang dari apa yang berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah karyawan, kita berikan kepada perusahaan tidak kurang dari apa yang berhak perusahaan dapatkan. Jika kita adalah mahasiswa, kita berikan kepada bapak ibu dosen kita apa yang berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah pengajar, kita berikan kepada murid-murid kita apa yang berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah imam, kita berikan kepada jamaah apa yang berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah jamaah, kita berikan kepada imam apa yang berhak imam dapatkan.

Kita sedang mengemudi di jalan, kita memotong jalan orang lain, apakah kita sudah berikan kepada pemakai jalan yang lain apa yang berhak mereka dapatkan? Kadang, kita tidak menghidupkan ayat ini ketika kita parkir mau shalat Jumat. Kadang kita potong jalan dsb supaya bisa dapat lahan parkir karena kita takut terlambat. Kita tidak pernah memperbaiki diri untuk datang lebih awal. Kita parkir di area yang terlarang atau di area yang bukan untuk mobil kita. Itu hak orang lain, kita tidak bisa begitu saja merebutnya.

Demikian juga dengan tetangga kita. Berapa banyak dari kita yang kenal tetangga kita? Itu termasuk sesuatu yang berhak mereka dapatkan dari diri kita. Kita mungkin tidak tahu nama-nama mereka. Kalo kita buka puasa, ga ada salahnya berbagi makanan kepada tetangga kita. Mereka Hindu, mereka Yahudi, mereka Kristen, ga masalah, berikan aja, kita sedang bergembira dan kita ingin mereka ikut bergembira. Rasulullah saw minta kita peduli sama tetangga kita. Berapa banyak umat Islam yang bertengkar dengan tetangga mereka? Ayat ini mengingatkan kita: kita beri mereka, sepenuhnya, hak yang seharusnya mereka dapatkan. Jika kita bisa menghidupkan satu potong ayat ini saja, umat Islam akan terlihat berbeda. Kehidupan anda dan kehidupan saya akan terlihat berbeda. Keluarga kita akan terlihat berbeda.

Nasihat dahsyat yang kedua, wa idzaa khakamtum baynannaasi an takh-kumuu bil-‘adl. Dan ketika saatnya tiba, saat kita harus mengambil keputusan antara dua orang, artinya ada perselisihan dan kita jadi hakimnya. Mungkin kita berpikir, lho saya kan bukan hakim? Allah bilang, idzaa. Apabila. Bukan ‘jika’. Artinya, akhirnya kita akan jadi hakim juga. Perselisihan antara kedua orang tua kita, mungkin. Antara saudara-saudara kandung kita mungkin juga. Mungkin ada pertengkaran antara teman-teman kita. Antara teman-teman sekampus atau sekelas mungkin ada pertengkaran. Rekan sekerja bisa terjadi cekcok. Anak-anak kita sendiri mungkin, atau sering J. Pasti akan ada saatnya terjadi konflik dan mereka datang kepada kita dan minta kita menyelesaikan konflik mereka dan ketika menghadapi situasi itu, kita harus memutuskan dengan adil. An takh-kumuu bil-‘adl. You judge with fairness.  

Kadang-kadang orang yang kita ga suka, dia benar. Dan kadang orang yang kita sukai, dia salah. Berat memang untuk bilang bahwa orang yang kita sukai itu salah. Tapi kita tetap harus mengatakannya. Kadang berat untuk bilang bahwa keluarga yang lain itu benar, dan keluarga kita sendiri itu salah. Itu susah untuk dilakukan. Tapi kita harus lakukan itu kadang-kadang.

Kadang sulit untuk bilang ke abang kita sendiri, abang kita yang tertua, bahwa dia itu salah, dan adik kita itu benar. Dan kita tetap harus katakan juga bahwa adik kita itu benar. Subkhaanallaah. Kita akan berada dalam posisi seperti itu. Idzaa khakamtum baynannaasi an takh-kumuu bil-‘adl.

Lalu Allah bilang, innallaaha ni’immaa ya’izhukum bihii. Betapa dahsyatnya nasihat yang Allah berikan padamu. Seakan-akan Allah bilang sama kita, “Aku ga yakin kamu menyadari apa yang baru saja Aku katakan”. Atau, “Aku ga yakin kamu sadar betapa dahsyat dan berat kedua nasihat itu tadi”.

Dua komentar terakhir untuk masing-masing dari kedua ayat tadi. Yang pertama, kita berikan tanggungjawab ke mereka yang berhak atau layak untuk mendapatkannya. Kadang-kadang kita memberi kerjaan ke keponakan, saudara sepupu atau tetangga, KKN, mereka tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan itu tapi mereka bisa diselipkan masuk. Kadang-kadang terjadi moslem connections, bukan KKN tapi KSM (Koneksi Sesama Muslim). Kalau kita ingin menghidupkan ayat ini, jika ada orang Kristen melamar pekerjaan, seorang Hindu melamar pekerjaan, dan dia lebih qualified, dan yang muslim melamar tapi tidak qualified, maka tidak bisa kita katakan bahwa adalah Islami kalo saya kasih pekerjaan ke pelamar yang muslim. Tidak bisa begitu. Kita beri pekerjaan ke mereka yang layak mendapatkannya.

Jika kita adalah seorang muslim yang berprofesi sebagai HR Manager dan sedang merekrut karyawan, tugas kita bukan merekrut kandidat yang beragama Islam, tapi mereka kandidat yang paling qualified. Ini adalah an tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa. Para sahabat sangat “tajam” dalam hal ini. Mereka sangat jeli, sangat cermat, ketika ada perselisihan antara muslim dan non-muslim, mereka akan mendengarkan cerita dari non-muslim terlebih dahulu, bahkan. Dan mereka mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan cerita yang utuh. Para sahabat tidak berasumsi bahwa saudara-saudaranya yang muslim tidak mungkin bersalah, tidak. Mereka tidak melakukan itu. Kita juga tidak bisa melakukan itu. Asal membela yang muslim tanpa melihat akar masalahnya. An tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa. We give rights to people who deserve them.

Kadang kita diminta, bisakah memberi rekomendasi di linkedin. Kalo kita tidak tahu atau kita tahu bahwa mereka tidak qualified, kita tidak seharusnya memberikan rekomendasi itu. Jika mereka tidak melakukan pekerjaan dengan memuaskan, mereka tidak layak kita beri rekomendasi. “Kamu gimana sih, kita kan satu saudara, satu iman, satu islam, kok kamu begitu?” “Ya, betul, aku saudaramu sesama muslim, justru karena itu lah aku tidak bisa berbohong atas nama kamu”. Kita harus jujur. Beri rekomendasi kepada yang berhak mendapatkannya, atau sebaliknya.

Kadang situasinya ada yang layak dipromosikan tapi kita seolah keberatan hanya karena dia bukan seorang muslim. Kita harus memutuskan dengan adil.

Semoga Allah membantu kita hidup dengan nasihat yang benar-benar dahsyat ini, dan melalui menghidupkan nasihat ini, semoga Allah mengubah wajah dari seluruh umat. Sehingga Islam benar-benar bisa menjadi rahmatan lil ‘aalamiin.
Barakallaahu lii wa lakum. Subkhaanakallaahhumma wa bikhamdika. Asy-hadu an laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilayk.

Sabtu, 27 Juni 2015

Allah Knows and I Know Not








Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syaithan yang terkutuk. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al-Baqarah, 2:216)

Source                                                                                      Bayyinah.com

Tafsir by                                                                                   Nouman Ali Khan, CEO of Bayyinah Institute

File name                                                                                002_216.mp3

Duration                                                                                  21mm47ss

Penyusun ulang                                                                    brother.heru@gmail.com

Beberapa ayat yang paling cantik di dalam Al-quran terdapat di bagian akhir dari Surat Al-Baqarah. Berisi halaman-halaman yang sangat powerful atau memiliki daya dan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Kata-katanya singkat tapi wisdom atau kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya, sangat dalam.

Ketika ada seseorang yang masuk Islam, dia mengucapkan dua kalimat syahadat, setiap orang di sekelilingnya mengucapkan takbir, Allahu Akbar, kita memeluknya, Alhamdulillah dia memulai kehidupannya yang baru. Insya Allah dia akan mendapatkan dukungan dari komunitas Islamnya yang baru. Memeluk Islam mengandung konsekuensi. Laa-ilaaha-illallaah tidak sekedar mengakui bahwa Allah itu Satu-Satunya, tapi juga bahwa kecintaan kita sama Allah kita letakkan di atas kecintaan kita kepada selain-Nya dan bahwa keputusan-Nya kita junjung tinggi di atas keputusan-keputusan lainnya yang didasarkan pada pemikiran atau pertimbangan kita yang terbatas.

Salah satu keputusan yang datang dari Allah adalah bahwa kita harus siap untuk berperang meski kita bukanlah laskar atau pejuang. But we are not a person of battle.

Komunitas mana yang menyukai perang? Bukankah kita lebih menyukai kedamaian? Allah tahu persis bahwa, secara alami, manusia tidak suka berperang.

Ada kesalahan pemahaman yang fatal bahwa jika seorang muslim punya kemauan yang kuat untuk berperang, maka orang tersebut menjadi mukmin yang lebih baik. Ini salah. Ini fatal. Yang diinginkan manusia adalah melihat kedamaian di sekelilingnya. Dan Allah tahu persis soal itu. Makanya, di ayat ini, Allah meletakkan fithrah manusia: wa huwa kurhun lakum (padahal itu tidak menyenangkan bagimu). You don’t like it.

Selanjutnya Allah menjelaskan wa ‘asaa an takrahuu syay-an wa huwa chayrun lakum (tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu). Rasulullah saw diminta memerangi Quraisy meski berperang bukan sesuatu yang baik. Kita harus melihat semua perspektif yang ada secara lebih luas bahwa di dalam Al-quran terdapat kisah Nabi-Nabi dan kesamaan diantara mereka semua adalah da’wah dan shabr. Bukan berperang. Itulah common manhaj dari semua Nabi.

Prinsip “boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu” tidak hanya terbatas pada berperang. Karena dalam hikmah-Nya, Allah tidak mengatakan wa ‘asaa an takrahuu qitaalan, wa huwa chayrun lakum (boleh jadi kamu tidak suka berperang, padahal itu baik bagimu). Allah tidak mengatakan itu. Yang Allah katakan adalah ‘asaa an takrahuu syay-an wa huwa chayrun lakum. Mungkin kamu tidak suka “sesuatu”, padahal itu baik bagimu. “Sesuatu” itu apapun. Apapun.

Seberapa besar preferences atau hal-hal yang lebih kita sukai memainkan peran dalam hal apa yang kita lakukan dan apa yang tidak kita lakukan? Apa yang terjadi terhadap orang-orang yang tidak mau mendengarkan pesan-pesan dari Allah, over and over again, berkali-kali, tidak mau diingatkan oleh kitabullaah? Iman menjadi lemah. Dan ketika iman lemah, Islam adalah seperti afterthought, sesuatu yang dipikirkan belakangan. Kita menjadi orang yang “gimana ntar lah”, bukan “lah ntar gimana”. Jadi ketika kita akan memutuskan sesuatu, preferensi kita adalah yang kita pikir baik atau tidak baik, itulah yang ada di front seat, di kursi depan, dan apa yang Allah firmankan tentang hal itu, apa yang Rasulullah saw sabdakan tentang hal itu, berada di back seat atau kursi belakang. Bahkan ketika kita tahu keputusan kita akan bersifat kontradiktif dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan, masih saja kita berpikir, ah itu bukan masalah yang besar, Allah kan ga mungkin bikin kita ga nyaman, jadi santai aja bro!

Anak kita sakit. Dia ga mau minum obat. Padahal kalo dia ga mau minum obat, kesehatannya akan memburuk. Maka ibundanya harus membuat mulutnya terbuka lebar. Anak itu menjerit. Anak itu berteriak-teriak. Anak itu tidak mau. Anak itu berontak. Anak itu tidak nyaman. Ibundanya tahu persis bahwa anaknya tidak nyaman. Sang bunda, dengan naluri keibuannya membenci itu, membenci tindakan yang memaksakan sesuatu kepada anaknya sendiri, juga, tidak suka mendengar anaknya menjerit. Tetapi sang ibu tetap memasukkan obat itu ke mulut anaknya sampai obat itu turun dari tenggorakan anaknya. Anaknya tidak bisa paham kenapa ibundanya tega melakukan itu. Tidak mudah bagi seorang ibu melakukan itu. Sang ibu justru tega melakukan itu saking rasa cintanya sama anaknya karena tidak ingin melihat anaknya berlama-lama terbaring kesakitan. Allah swt, begitu indahnya firman Allah maa yaf’alullaahu bi’adzaabikum (kesenangan apa yang akan didapat Allah dengan mengazabmu). Pada prinsipnya Allah tidak suka mengazab kita. Allah tidak suka menempatkan kita dalam kesulitan. Allah menginginkan yang terbaik buat kita. Saat itu Quraisy telah menjadi seperti cancer, kanker, malapetaka, dan kalau limpa tidak dipotong, seluruh tubuh akan menanggung resikonya! Itu masalah yang sesungguhnya.

Wa ‘asaa an tukhibbuu syay-an wa huwa syarrun lakum. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Salah satu contoh yang Rasulullah saw pernah ingatkan kita adalah tentang al-chalwah. Berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan di ruangan tertutup. Di ruang meeting. Di mobil. Di ruang direksi. Di kamar mandi. Kita juga sudah tahu bahwa dalam kondisi seperti itu, hadir pihak ketiga, yaitu syaithan. Anjuran Rasulullah saw supaya kita menghindari al-chalwah adalah nasihat yang baik.

Ada sebuah kisah tentang seorang pendeta Kristen di Amerika yang sangat terkenal, tapi tidak untuk disebutkan namanya di sini. Dia belum pernah terkena skandal atau terdengar seperti itu, di sepanjang hidupnya, dalam karirnya sebagai seorang pendeta Kristen. Ketika ditanya, ‘Anda sudah 40 tahun jadi pendeta Kristen, tapi tidak pernah terdengar tentang Anda satu pun tentang insiden, Anda dengan seorang wanita, tidak pernah ada skandal gereja, Anda tidak pernah harus pindah dari komunitas gereja yang satu ke komunitas gereja yang lain, apa rahasia Anda?’ Di Amerika, cukup banyak kejadian skandal menimpa pendeta sehingga harus pindah, lalu pindah lagi, demikian seterusnya, dan itu dianggap normal. Pendeta yang bersih dari skandal tadi bilang, ‘Saya hanya punya satu aturan yang diajarkan ayah saya: jangan pernah bersama seorang wanita di ruang kantormu dan jika harus seperti itu, buka lah pintunya lebar-lebar’. Wow, sunnah man. Bagi pendeta itu, sunnah telah menyelamatkannya. Subkhaanallaah.

Ada pemuda-pemudi yang berjuang di organisasi-organisasi Islam, mereka berangkat dari nilai-nilai yang suci. Mereka ingin memikirkan umat. Mereka melakukan aksi-aksi sosial. Waktu terus berjalan dan tiba lah saat di mana seorang aktivis Islam laki-laki dan seorang lagi wanita, bertemu di late night Skype meeting, bertemu di malam yang larut melalui Skype, tentunya untuk membahas soal penyebaran brosur, rencana aktivitas dakwah. Membahas layout atau tata-letak ruangan, sound system, lighting atau tata pencahayaan ruangan atau aula yang akan digunakan untuk menggelar acara-acara keagamaan atau aksi sosial. Banyak sekali interaksi yang terjadi termasuk interaksi one-on-one, yang sudah menyalahi sunnah dan ketika kita coba untuk menasihati mereka, ketika kita bilang ke mareka, “Friend, aku tidak sedang menuduh antum atau apapun, tapi kita punya ajaran dari Rasulullah saw tentang hal ini. Kita harus hati-hati soal ini”, maka mereka bereaksi, “Kamu sebenernya mau bilang apa, bro? Dia itu sudah seperti adik saya sendiri. Tidak mungkin saya akan pernah menyukainya.”  

Astaghfirullah. Itu yang laki-laki. Yang perempuan, kita ga bisa nasihati pula.

Bro, kamu bisa saja menganggapnya seperti adikmu sendiri, atau kalo kamu mau, kamu juga bisa menganggap dia seperti nenek kamu sendiri, tapi itu tidak bisa mengubah apapun. Kamu bisa panggil dia adik, bisa panggil dia tante, budhe, simbah, nenek, apapun yang kamu pengin panggil dia, faktanya atau masalahnya adalah dia bukan makhram kamu.” Ini bukan soal aku sedang menuduh kamu atau apa, tapi Rasulullah saw memberikan peringatan dan aku hanya minta kamu bisa menghormati Rasulullah, itu aja sih bro.”

“Oke-oke aku ngerti. Aku ngerti apa kata Rasulullah saw soal itu, tapi aku ini kan punya ketaqwaan yang sudah tinggi, jadi kamu ga usah khawatir. Kita ini punya persoalan umat yang jauh lebih besar! Persoalan-persoalan kecil seperti itu tidak akan pernah menjeratku”.

Astaghfirullah. Tidak ada satu bayi pun di dunia ini yang pernah disuntik imunisasi kebal godaan syaithan. Tidak ada. Tidak ada seorang pun. Banyaknya hafalan Quranmu ga ngaruh, tingginya ilmu agamamu ga ngaruh, panjangnya jenggotmu ga ngaruh, latar belakang keluargamu ga ngaruh, umurmu sehingga kamu sudah dipanggil kakek ga ngaruh juga. Sederhana aja, hati-hati. Sederhana aja, jangan pernah ber-chalwah.

Orang-orang yang sungguh-sungguh beriman, the true believers, jika dikasih nasihat yang asalnya dari Allah dan Rasul-Nya, orang yang sungguh-sungguh beriman akan merespon, “Itu lebih baik bagiku. Aku kembali. Aku kembali. Aku kembali ke jalan yang lurus.”

Ini adalah salah satu contoh “boleh jadi kamu suka sesuatu tapi Allah tidak suka itu”.

Di Amerika, ada MSA (Muslim Students’ Association). Seringnya yang paling banyak bekerja adalah muslimahnya, sementara yang laki-laki terkenal baik dan canggih saat meetings J. Menempel poster, menata ruangan, memesan makanan, biasanya sisters yang melakukannya J. Ketika ada yang harus dikomunikasikan melalui email one-on-one, karena mereka mengetahui email address dari ayahanda mereka, maka seorang brother yang mengirim email ke seorang sister, maka mereka juga ikutkan email address dari ayahnya di cc. Di setiap email. Ketika menjawab email, maka yang dipilih adalah opsi Reply to All, jadi ayahanda mereka tetap mengetahui conversation mereka. Tidak peduli apapun yang sedang dibahas tapi ayah mereka selalu dapat salinan dari percakapan mereka. Ini merupakan cara untuk membentengi diri dari berbuat chalwah.

Seberapa aktif pun anak-anak muda berkecimpung di kegiatan-kegiatan Islami, tapi itu tidak akan pernah membuat mereka terlepas dari waswasa atau bisikan syaithan. Apalagi dengan budaya hedonisme di sekeliling kita, tayangan-tayangan televisi yang tidak disaring, diumbarnya aurat di mana-mana, tidak mungkin mereka terbebas dari waswasa atau bisikan syaithan. Kita harus realistis. Kita harus terima nasihat Rasulullah saw. Allah tahu yang lebih baik. Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun. Bahkan, laa ta’lamuuna anfusakum (kamu bahkan tidak mengetahui dirimu sendiri).

Dilihat dari segi bahasa, struktur yang normal dari bahasa Arab seharusnya bunyi ayatnya adalah ya’lamullaahu. Saya punya beberapa teman asal Padang dan biasanya cara berbahasa mereka mirip dengan struktur normal Bahasa Arab. “Tahu Allah itu”. Tapi di sini, struktur yang Allah gunakan bukan struktur yang normal. Bunyi ayat itu wallaahu ya’lamu dan itu artinya menegaskan “Allah lah yang tahu”, atau dengan kata lain, artinya sudah  mencakup “kamu tidak tahu” bahkan sebelum diteruskan dengan wa antum laa ta’lamuun.
 
Sikap atau attitude dari the true believers, mereka yang sungguh-sungguh beriman, mereka memperlakukan apa kata Allah dan Rasul-Nya sebagai the best counsel, nasihat yang terbaik. Memahami nasihat-nasihat Allah dan Rasul-Nya, dan ketika tiba saatnya mengambil keputusan, mengambil nasihat-nasihat tersebut meskipun tidak sejalan dengan preferensi  secara manusiawi. Itu lah cara kita beriman terhadap ayat wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun. Ayat ini cantik sekali. Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun. Selayaknya kita hafalkan ayat ini dan kita terapkan dalam kehidupan kita. Kata-kata Allah ini akan menyelamatkan kita, terutama dalam situasi-situasi yang sulit.

Semoga Allah swt senantiasa menghadirkan Al-Quran di dalam kehidupan kita. Dan semoga Allah swt membantu kita untuk memperbaiki sikap kita, membantu kita untuk senantiasa sadar bahwa Allah lah yang tahu segalanya, dan kita tidak tahu apa-apa di hadapan Allah.

Rabbanaa laa ‘ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa. Innaka antal ‘aliimul khakiim. Barakallaahu lii wa lakum fil qur-aanil khakiim. Wa nafa’anii wa iyaakum bil aayaat wa dzikril khakiim. Subkhaanakallaahhumma wa bikhamdika. Asy-hadu an laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilayk.