Aku berlindung kepada Allah dari
segala godaan syaithan yang terkutuk. Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di
antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah
sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar,
Maha Melihat. (QS An-Nisaa’, 4:58)
Source Bayyinah.com
Tafsir by Nouman
Ali Khan, CEO of Bayyinah Institute
File name 004_058
Excellent Teaching HE Gives You.mp4
Duration 08mm22ss
Ayat ini
mengandung dua nasihat dahsyat. Yang pertama, innallaaha ya’murukum an
tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa. Sampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya. Amanat itu ada yang datangnya dari Allah swt sejak saat kita
mengucap Laa Ilaaha Illallaah. Lalu kita punya amanat dari Rasulullah saw,
bagaimana kita menghargai beliau dengan shalawat kita, bagaimana kita mematuhi
beliau saw. Lalu kita juga punya amanat dari keluarga kita, dari orang tua
kita, dari tetangga-tetangga kita. Semua ini adalah amanat. Ayat ini meringkas
dengan cantik semua firman Allah dalam satu pernyataan: “berikan apa yang
berhak didapatkan”.
Kita pastikan kita
berikan ke mereka apa yang berhak mereka dapatkan. Dan, tidak kurang dari itu. No
less. Tidak kurang dari apa yang berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah
pemberi kerja, kita berikan ke karyawan kita tidak kurang dari apa yang berhak
mereka dapatkan. Jika kita adalah karyawan, kita berikan kepada perusahaan
tidak kurang dari apa yang berhak perusahaan dapatkan. Jika kita adalah mahasiswa,
kita berikan kepada bapak ibu dosen kita apa yang berhak mereka dapatkan. Jika
kita adalah pengajar, kita berikan kepada murid-murid kita apa yang berhak
mereka dapatkan. Jika kita adalah imam, kita berikan kepada jamaah apa yang
berhak mereka dapatkan. Jika kita adalah jamaah, kita berikan kepada imam apa
yang berhak imam dapatkan.
Kita sedang
mengemudi di jalan, kita memotong jalan orang lain, apakah kita sudah berikan
kepada pemakai jalan yang lain apa yang berhak mereka dapatkan? Kadang, kita
tidak menghidupkan ayat ini ketika kita parkir mau shalat Jumat. Kadang kita
potong jalan dsb supaya bisa dapat lahan parkir karena kita takut terlambat.
Kita tidak pernah memperbaiki diri untuk datang lebih awal. Kita parkir di area
yang terlarang atau di area yang bukan untuk mobil kita. Itu hak orang lain,
kita tidak bisa begitu saja merebutnya.
Demikian juga
dengan tetangga kita. Berapa banyak dari kita yang kenal tetangga kita? Itu
termasuk sesuatu yang berhak mereka dapatkan dari diri kita. Kita mungkin tidak
tahu nama-nama mereka. Kalo kita buka puasa, ga ada salahnya berbagi makanan
kepada tetangga kita. Mereka Hindu, mereka Yahudi, mereka Kristen, ga masalah,
berikan aja, kita sedang bergembira dan kita ingin mereka ikut bergembira.
Rasulullah saw minta kita peduli sama tetangga kita. Berapa banyak umat Islam
yang bertengkar dengan tetangga mereka? Ayat ini mengingatkan kita: kita beri
mereka, sepenuhnya, hak yang seharusnya mereka dapatkan. Jika kita bisa
menghidupkan satu potong ayat ini saja, umat Islam akan terlihat berbeda.
Kehidupan anda dan kehidupan saya akan terlihat berbeda. Keluarga kita akan
terlihat berbeda.
Nasihat dahsyat
yang kedua, wa idzaa khakamtum baynannaasi an takh-kumuu bil-‘adl. Dan
ketika saatnya tiba, saat kita harus mengambil keputusan antara dua orang,
artinya ada perselisihan dan kita jadi hakimnya. Mungkin kita berpikir, lho
saya kan bukan hakim? Allah bilang, idzaa. Apabila. Bukan ‘jika’.
Artinya, akhirnya kita akan jadi hakim juga. Perselisihan antara kedua orang
tua kita, mungkin. Antara saudara-saudara kandung kita mungkin juga. Mungkin
ada pertengkaran antara teman-teman kita. Antara teman-teman sekampus atau
sekelas mungkin ada pertengkaran. Rekan sekerja bisa terjadi cekcok. Anak-anak
kita sendiri mungkin, atau sering J.
Pasti akan ada saatnya terjadi konflik dan mereka datang kepada kita dan minta
kita menyelesaikan konflik mereka dan ketika menghadapi situasi itu, kita harus
memutuskan dengan adil. An takh-kumuu bil-‘adl. You judge with fairness.
Kadang-kadang
orang yang kita ga suka, dia benar. Dan kadang orang yang kita sukai, dia
salah. Berat memang untuk bilang bahwa orang yang kita sukai itu salah. Tapi
kita tetap harus mengatakannya. Kadang berat untuk bilang bahwa keluarga yang
lain itu benar, dan keluarga kita sendiri itu salah. Itu susah untuk dilakukan.
Tapi kita harus lakukan itu kadang-kadang.
Kadang sulit
untuk bilang ke abang kita sendiri, abang kita yang tertua, bahwa dia itu
salah, dan adik kita itu benar. Dan kita tetap harus katakan juga bahwa adik
kita itu benar. Subkhaanallaah. Kita akan berada dalam posisi seperti
itu. Idzaa khakamtum baynannaasi an takh-kumuu bil-‘adl.
Lalu Allah
bilang, innallaaha ni’immaa ya’izhukum bihii. Betapa dahsyatnya nasihat
yang Allah berikan padamu. Seakan-akan Allah bilang sama kita, “Aku ga yakin
kamu menyadari apa yang baru saja Aku katakan”. Atau, “Aku ga yakin kamu sadar
betapa dahsyat dan berat kedua nasihat itu tadi”.
Dua komentar
terakhir untuk masing-masing dari kedua ayat tadi. Yang pertama, kita berikan
tanggungjawab ke mereka yang berhak atau layak untuk mendapatkannya.
Kadang-kadang kita memberi kerjaan ke keponakan, saudara sepupu atau tetangga,
KKN, mereka tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan itu tapi mereka bisa
diselipkan masuk. Kadang-kadang terjadi moslem connections, bukan KKN
tapi KSM (Koneksi Sesama Muslim). Kalau kita ingin menghidupkan ayat ini, jika
ada orang Kristen melamar pekerjaan, seorang Hindu melamar pekerjaan, dan dia
lebih qualified, dan yang muslim melamar tapi tidak qualified,
maka tidak bisa kita katakan bahwa adalah Islami kalo saya kasih pekerjaan ke
pelamar yang muslim. Tidak bisa begitu. Kita beri pekerjaan ke mereka yang
layak mendapatkannya.
Jika kita
adalah seorang muslim yang berprofesi sebagai HR Manager dan sedang merekrut
karyawan, tugas kita bukan merekrut kandidat yang beragama Islam, tapi mereka
kandidat yang paling qualified. Ini adalah an tu-addul amaanaati ilaa
ahlihaa. Para sahabat sangat “tajam” dalam hal ini. Mereka sangat jeli,
sangat cermat, ketika ada perselisihan antara muslim dan non-muslim, mereka
akan mendengarkan cerita dari non-muslim terlebih dahulu, bahkan. Dan mereka
mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan cerita
yang utuh. Para sahabat tidak berasumsi bahwa saudara-saudaranya yang muslim
tidak mungkin bersalah, tidak. Mereka tidak melakukan itu. Kita juga tidak bisa
melakukan itu. Asal membela yang muslim tanpa melihat akar masalahnya. An
tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa. We give rights to people who deserve them.
Kadang kita
diminta, bisakah memberi rekomendasi di linkedin. Kalo kita tidak tahu
atau kita tahu bahwa mereka tidak qualified, kita tidak seharusnya
memberikan rekomendasi itu. Jika mereka tidak melakukan pekerjaan dengan
memuaskan, mereka tidak layak kita beri rekomendasi. “Kamu gimana sih, kita kan
satu saudara, satu iman, satu islam, kok kamu begitu?” “Ya, betul, aku saudaramu
sesama muslim, justru karena itu lah aku tidak bisa berbohong atas nama kamu”.
Kita harus jujur. Beri rekomendasi kepada yang berhak mendapatkannya, atau
sebaliknya.
Kadang
situasinya ada yang layak dipromosikan tapi kita seolah keberatan hanya karena
dia bukan seorang muslim. Kita harus memutuskan dengan adil.
Semoga Allah
membantu kita hidup dengan nasihat yang benar-benar dahsyat ini, dan melalui
menghidupkan nasihat ini, semoga Allah mengubah wajah dari seluruh umat.
Sehingga Islam benar-benar bisa menjadi rahmatan lil ‘aalamiin.
Barakallaahu lii wa lakum. Subkhaanakallaahhumma
wa bikhamdika. Asy-hadu an laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilayk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar