Aku berlindung kepada Allah dari
segala godaan syaithan yang terkutuk. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal
itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu,
padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu
tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS
Al-Baqarah, 2:216)
Source Bayyinah.com
Tafsir by Nouman
Ali Khan, CEO of Bayyinah Institute
File name 002_216.mp3
Duration 21mm47ss
Beberapa ayat
yang paling cantik di dalam Al-quran terdapat di bagian akhir dari Surat
Al-Baqarah. Berisi halaman-halaman yang sangat powerful atau memiliki
daya dan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Kata-katanya singkat tapi wisdom
atau kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya, sangat dalam.
Ketika ada
seseorang yang masuk Islam, dia mengucapkan dua kalimat syahadat, setiap orang di
sekelilingnya mengucapkan takbir, Allahu Akbar, kita memeluknya, Alhamdulillah dia
memulai kehidupannya yang baru. Insya Allah dia akan mendapatkan dukungan dari
komunitas Islamnya yang baru. Memeluk Islam mengandung konsekuensi.
Laa-ilaaha-illallaah tidak sekedar mengakui bahwa Allah itu Satu-Satunya, tapi
juga bahwa kecintaan kita sama Allah kita letakkan di atas kecintaan kita
kepada selain-Nya dan bahwa keputusan-Nya kita junjung tinggi di atas
keputusan-keputusan lainnya yang didasarkan pada pemikiran atau pertimbangan kita
yang terbatas.
Salah satu
keputusan yang datang dari Allah adalah bahwa kita harus siap untuk berperang
meski kita bukanlah laskar atau pejuang. But we are not a person of battle.
Komunitas mana
yang menyukai perang? Bukankah kita lebih menyukai kedamaian? Allah tahu persis
bahwa, secara alami, manusia tidak suka berperang.
Ada kesalahan pemahaman
yang fatal bahwa jika seorang muslim punya kemauan yang kuat untuk berperang,
maka orang tersebut menjadi mukmin yang lebih baik. Ini salah. Ini fatal. Yang
diinginkan manusia adalah melihat kedamaian di sekelilingnya. Dan Allah tahu
persis soal itu. Makanya, di ayat ini, Allah meletakkan fithrah manusia: wa
huwa kurhun lakum (padahal itu tidak menyenangkan bagimu). You don’t
like it.
Selanjutnya
Allah menjelaskan wa ‘asaa an takrahuu syay-an wa huwa chayrun lakum (tetapi
boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu). Rasulullah
saw diminta memerangi Quraisy meski berperang bukan sesuatu yang baik. Kita
harus melihat semua perspektif yang ada secara lebih luas bahwa di dalam Al-quran
terdapat kisah Nabi-Nabi dan kesamaan diantara mereka semua adalah da’wah dan
shabr. Bukan berperang. Itulah common manhaj dari semua Nabi.
Prinsip “boleh
jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu” tidak hanya terbatas
pada berperang. Karena dalam hikmah-Nya, Allah tidak mengatakan wa ‘asaa an
takrahuu qitaalan, wa huwa chayrun lakum (boleh jadi kamu tidak suka
berperang, padahal itu baik bagimu). Allah tidak mengatakan itu. Yang Allah katakan
adalah ‘asaa an takrahuu syay-an wa huwa chayrun lakum. Mungkin kamu
tidak suka “sesuatu”, padahal itu baik bagimu. “Sesuatu” itu apapun. Apapun.
Seberapa besar preferences
atau hal-hal yang lebih kita sukai memainkan peran dalam hal apa yang kita
lakukan dan apa yang tidak kita lakukan? Apa yang terjadi terhadap orang-orang
yang tidak mau mendengarkan pesan-pesan dari Allah, over and over again,
berkali-kali, tidak mau diingatkan oleh kitabullaah? Iman menjadi lemah. Dan
ketika iman lemah, Islam adalah seperti afterthought, sesuatu yang
dipikirkan belakangan. Kita menjadi orang yang “gimana ntar lah”, bukan “lah ntar
gimana”. Jadi ketika kita akan memutuskan sesuatu, preferensi kita adalah yang
kita pikir baik atau tidak baik, itulah yang ada di front seat, di kursi
depan, dan apa yang Allah firmankan tentang hal itu, apa yang Rasulullah saw
sabdakan tentang hal itu, berada di back seat atau kursi belakang.
Bahkan ketika kita tahu keputusan kita akan bersifat kontradiktif dengan apa
yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan, masih saja kita berpikir, ah itu bukan
masalah yang besar, Allah kan ga mungkin bikin kita ga nyaman, jadi santai aja
bro!
Anak kita
sakit. Dia ga mau minum obat. Padahal kalo dia ga mau minum obat, kesehatannya akan
memburuk. Maka ibundanya harus membuat mulutnya terbuka lebar. Anak itu
menjerit. Anak itu berteriak-teriak. Anak itu tidak mau. Anak itu berontak. Anak
itu tidak nyaman. Ibundanya tahu persis bahwa anaknya tidak nyaman. Sang bunda,
dengan naluri keibuannya membenci itu, membenci tindakan yang memaksakan
sesuatu kepada anaknya sendiri, juga, tidak suka mendengar anaknya menjerit.
Tetapi sang ibu tetap memasukkan obat itu ke mulut anaknya sampai obat itu
turun dari tenggorakan anaknya. Anaknya tidak bisa paham kenapa ibundanya tega
melakukan itu. Tidak mudah bagi seorang ibu melakukan itu. Sang ibu justru tega
melakukan itu saking rasa cintanya sama anaknya karena tidak ingin melihat anaknya
berlama-lama terbaring kesakitan. Allah swt, begitu indahnya firman Allah maa yaf’alullaahu
bi’adzaabikum (kesenangan apa yang akan didapat Allah dengan mengazabmu). Pada
prinsipnya Allah tidak suka mengazab kita. Allah tidak suka menempatkan kita
dalam kesulitan. Allah menginginkan yang terbaik buat kita. Saat itu Quraisy telah
menjadi seperti cancer, kanker, malapetaka, dan kalau limpa tidak
dipotong, seluruh tubuh akan menanggung resikonya! Itu masalah yang
sesungguhnya.
Wa ‘asaa an
tukhibbuu syay-an wa huwa syarrun lakum. Dan boleh jadi kamu menyukai
sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Salah satu
contoh yang Rasulullah saw pernah ingatkan kita adalah tentang al-chalwah.
Berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan di ruangan tertutup. Di ruang
meeting. Di mobil. Di ruang direksi. Di kamar mandi. Kita juga sudah tahu bahwa
dalam kondisi seperti itu, hadir pihak ketiga, yaitu syaithan. Anjuran Rasulullah saw supaya kita menghindari al-chalwah adalah
nasihat yang baik.
Ada sebuah
kisah tentang seorang pendeta Kristen di Amerika yang sangat terkenal, tapi
tidak untuk disebutkan namanya di sini. Dia belum pernah terkena skandal atau
terdengar seperti itu, di sepanjang hidupnya, dalam karirnya sebagai seorang
pendeta Kristen. Ketika ditanya, ‘Anda sudah 40 tahun jadi pendeta Kristen,
tapi tidak pernah terdengar tentang Anda satu pun tentang insiden, Anda dengan
seorang wanita, tidak pernah ada skandal gereja, Anda tidak pernah harus pindah
dari komunitas gereja yang satu ke komunitas gereja yang lain, apa rahasia
Anda?’ Di Amerika, cukup banyak kejadian skandal menimpa pendeta sehingga harus
pindah, lalu pindah lagi, demikian seterusnya, dan itu dianggap normal. Pendeta
yang bersih dari skandal tadi bilang, ‘Saya hanya punya satu aturan yang
diajarkan ayah saya: jangan pernah bersama seorang wanita di ruang kantormu dan
jika harus seperti itu, buka lah pintunya lebar-lebar’. Wow, sunnah man.
Bagi pendeta itu, sunnah telah menyelamatkannya. Subkhaanallaah.
Ada pemuda-pemudi
yang berjuang di organisasi-organisasi Islam, mereka berangkat dari nilai-nilai
yang suci. Mereka ingin memikirkan umat. Mereka melakukan aksi-aksi sosial.
Waktu terus berjalan dan tiba lah saat di mana seorang aktivis Islam laki-laki
dan seorang lagi wanita, bertemu di late night Skype meeting, bertemu di
malam yang larut melalui Skype, tentunya untuk membahas soal penyebaran brosur,
rencana aktivitas dakwah. Membahas layout atau tata-letak ruangan, sound
system, lighting atau tata pencahayaan ruangan atau aula yang akan
digunakan untuk menggelar acara-acara keagamaan atau aksi sosial. Banyak sekali
interaksi yang terjadi termasuk interaksi one-on-one, yang sudah
menyalahi sunnah dan ketika kita coba untuk menasihati mereka, ketika
kita bilang ke mareka, “Friend, aku tidak sedang menuduh antum
atau apapun, tapi kita punya ajaran dari Rasulullah saw tentang hal ini. Kita
harus hati-hati soal ini”, maka mereka bereaksi, “Kamu sebenernya mau bilang
apa, bro? Dia itu sudah seperti adik saya sendiri. Tidak mungkin saya
akan pernah menyukainya.”
Astaghfirullah.
Itu yang laki-laki. Yang perempuan, kita ga bisa nasihati pula.
“Bro,
kamu bisa saja menganggapnya seperti adikmu sendiri, atau kalo kamu mau, kamu
juga bisa menganggap dia seperti nenek kamu sendiri, tapi itu tidak bisa
mengubah apapun. Kamu bisa panggil dia adik, bisa panggil dia tante, budhe,
simbah, nenek, apapun yang kamu pengin panggil dia, faktanya atau masalahnya
adalah dia bukan makhram kamu.” Ini bukan soal aku sedang menuduh kamu atau
apa, tapi Rasulullah saw memberikan peringatan dan aku hanya minta kamu bisa
menghormati Rasulullah, itu aja sih bro.”
“Oke-oke aku
ngerti. Aku ngerti apa kata Rasulullah saw soal itu, tapi aku ini kan punya
ketaqwaan yang sudah tinggi, jadi kamu ga usah khawatir. Kita ini punya
persoalan umat yang jauh lebih besar! Persoalan-persoalan kecil seperti itu
tidak akan pernah menjeratku”.
Astaghfirullah.
Tidak ada satu bayi pun di dunia ini yang pernah disuntik imunisasi kebal
godaan syaithan. Tidak ada. Tidak ada seorang pun. Banyaknya hafalan Quranmu ga
ngaruh, tingginya ilmu agamamu ga ngaruh, panjangnya jenggotmu ga ngaruh, latar
belakang keluargamu ga ngaruh, umurmu sehingga kamu sudah dipanggil kakek ga
ngaruh juga. Sederhana aja, hati-hati. Sederhana aja, jangan pernah ber-chalwah.
Orang-orang
yang sungguh-sungguh beriman, the true believers, jika dikasih nasihat
yang asalnya dari Allah dan Rasul-Nya, orang yang sungguh-sungguh beriman akan merespon,
“Itu lebih baik bagiku. Aku kembali. Aku kembali. Aku kembali ke jalan yang
lurus.”
Ini adalah
salah satu contoh “boleh jadi kamu suka sesuatu tapi Allah tidak suka itu”.
Di Amerika, ada
MSA (Muslim Students’ Association). Seringnya yang paling banyak bekerja adalah
muslimahnya, sementara yang laki-laki terkenal baik dan canggih saat meetings
J.
Menempel poster, menata ruangan, memesan makanan, biasanya sisters yang
melakukannya J.
Ketika ada yang harus dikomunikasikan melalui email one-on-one, karena
mereka mengetahui email address dari ayahanda mereka, maka seorang brother
yang mengirim email ke seorang sister, maka mereka juga ikutkan email
address dari ayahnya di cc. Di setiap email. Ketika menjawab email,
maka yang dipilih adalah opsi Reply to All, jadi ayahanda mereka tetap
mengetahui conversation mereka. Tidak peduli apapun yang sedang dibahas tapi
ayah mereka selalu dapat salinan dari percakapan mereka. Ini merupakan cara
untuk membentengi diri dari berbuat chalwah.
Seberapa aktif
pun anak-anak muda berkecimpung di kegiatan-kegiatan Islami, tapi itu tidak
akan pernah membuat mereka terlepas dari waswasa atau bisikan syaithan.
Apalagi dengan budaya hedonisme di sekeliling kita, tayangan-tayangan televisi
yang tidak disaring, diumbarnya aurat di mana-mana, tidak mungkin mereka
terbebas dari waswasa atau bisikan syaithan. Kita harus realistis. Kita
harus terima nasihat Rasulullah saw. Allah tahu yang lebih baik. Wallaahu ya’lamu
wa antum laa ta’lamuun. Bahkan, laa ta’lamuuna anfusakum (kamu
bahkan tidak mengetahui dirimu sendiri).
Dilihat dari
segi bahasa, struktur yang normal dari bahasa Arab seharusnya bunyi ayatnya
adalah ya’lamullaahu. Saya punya beberapa teman asal Padang dan biasanya
cara berbahasa mereka mirip dengan struktur normal Bahasa Arab. “Tahu Allah itu”.
Tapi di sini, struktur yang Allah gunakan bukan struktur yang normal. Bunyi
ayat itu wallaahu ya’lamu dan itu artinya menegaskan “Allah lah yang
tahu”, atau dengan kata lain, artinya sudah mencakup “kamu tidak tahu” bahkan sebelum
diteruskan dengan wa antum laa ta’lamuun.
Sikap atau attitude
dari the true believers, mereka yang sungguh-sungguh beriman, mereka
memperlakukan apa kata Allah dan Rasul-Nya sebagai the best counsel, nasihat
yang terbaik. Memahami nasihat-nasihat Allah dan Rasul-Nya, dan ketika tiba
saatnya mengambil keputusan, mengambil nasihat-nasihat tersebut meskipun tidak sejalan
dengan preferensi secara manusiawi. Itu
lah cara kita beriman terhadap ayat wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun.
Ayat ini cantik sekali. Wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun.
Selayaknya kita hafalkan ayat ini dan kita terapkan dalam kehidupan kita.
Kata-kata Allah ini akan menyelamatkan kita, terutama dalam situasi-situasi
yang sulit.
Semoga Allah
swt senantiasa menghadirkan Al-Quran di dalam kehidupan kita. Dan semoga Allah
swt membantu kita untuk memperbaiki sikap kita, membantu kita untuk senantiasa
sadar bahwa Allah lah yang tahu segalanya, dan kita tidak tahu apa-apa di
hadapan Allah.
Rabbanaa laa ‘ilma
lanaa illaa maa ‘allamtanaa. Innaka antal ‘aliimul khakiim. Barakallaahu lii wa
lakum fil qur-aanil khakiim. Wa nafa’anii wa iyaakum bil aayaat wa dzikril
khakiim. Subkhaanakallaahhumma wa bikhamdika. Asy-hadu an laa ilaaha illaa
anta. Astaghfiruka wa atuubu ilayk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar